Waspada Penjilat! Pembunuh karir Dan Laju Perusahaan

06:58 on June 23, 2015 by Editor in CEO insight

Penilaian kerja adalah sebuah cara untuk menghargai setiap individu di perusahaan. Bisa dibayangkan jika tidak ada sistem penilaian yang jelas. Bukan hanya karyawan yang dirugikan, namun juga perusahaan. David C. Mclcelland, psikolog yang juga penulis buku-buku tentang sumber daya manusia, menulis bahwa ada hubungan positif antara motif berprestasi dengan pencapaian kerja karyawan.

Menangani manusia berbeda dengan mesin. Bila tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin laju perusahaan terhenti. Berhentinya laju perusahaan bukan hanya diakibatkan kerugian material, namun juga kerugian sumber daya manusia (SDM). Dalam hal ini, perusahaan kekurangan aset SDM. Salah satu sebab hilangnya aset human resource adalah dikarenakan kondusifitas kerja yang tidak terjaga.

Jangan Asal Bapak Senang

Ada beberapa hal yang menjadi motivasi kerja karyawan. Selain uang dan jabatan, motivasi yang tak kalah penting dalam bekerja adalah lingkungan kerja. Suasana kerja yang kondusif akan membuat orang-orang yang bekerja di dalamnya menjadi betah. Begitu pula sebaliknya. Direktur RS Aulia Pekanbaru, Merza Gamal, mengingatkan akan bahaya laten tersebut. Masa depan perusahan dapat terancam, itu sebabnya pemimpin harus awas melihat kondisi ini dan jeli melihat performa karyawan. Siapa-siapa saja yang memang benar-benar bekerja dan mana yang tidak. “Perusahaan yang baik akan menerapkan Performance Measurement System. Jika sistem ini tidak dijalankan maka karir karyawan di dalamnya akan terombang-ambing. Mereka yang potensial akan tersingkir.” Imbuhnya.

Zona Nyaman, Si Biang Keladi

Perusahaan-perusahaan besar pada umumnya memiliki Performance Measurement System (PMS) yang baik. Meski tidak dapat dipungkiri, adanya sistem penilaian tidak menjamin penerapan yang baik. Padahal performance appraisal penting diterapkan. Biasanya faktor tidak dijalankannya alat ukur tersebut dikarenakan ada pihak-pihak yang sengaja menginginkan untuk tidak diterapkan. Mereka yang berada di zona nyaman cenderung merasa “terusik” dengan orang-orang potensial. Itulah kenapa PMS ini sering tidak diterapkan. Merza menambahkan bahwa, implementasi sistem pengukuran bergantung pada si user. Dipakai tidaknya alat tersebut, atau dipakai menggunakan prosedur yang seharusnya atau tidak, itu tergantung dari mereka kembali. Namun jika hal itu tidak dijalankan, jelas-jelas yang mengalami kerugian adalah banyak pihak, termasuk perusahaan itu sendiri.

Waspadai The Yes Man

Adanya penjilat di dunia kerja sudah pasti merugikan. Celakanya, pihak yang dijilat seringkali tidak sadar bahwa dirinya sedang diperdaya. Menghadapi kondisi seperti ini, Merza menyarankan kepada perusahaan untuk melakukan evaluasi. Untuk peran ini mau tidak mau harus dijalankan oleh seorang pemimpin. Mudah sebenarnya mengidentifikasi orang-orang tipe penjilat. Dia biasanya merasa selalu bisa. Semua tugas ia ambil dan menyanggupi. Giliran dimintai laporan tidak ada satupun yang berhasil diselesaikan. Dari sini, seorang pempimpin harus betul-betul mengenal karakter bawahannya. Menurut Merza, tidak ada yang tidak mungkin diatasi. Seberat apapun problem di lingkungan kerja, pasti dapat teratasi. Namun diperlukan sikap lapang dada seorang pemimpin. Ia menyarankan kepada para leader untuk berlapang dada meninggalkan comfort zone­-nya, karena ini yang mematikan karir seseorang. Comfort zone jugalah yang mematikan daya juang. “Gunung batu akan roboh apabila kita mau memahat batu yang pertama.” Pungkasnya, berfilosofi. (CEO Stars-FH)