Tyas Nastiti, CEO Klastik Footwear : “Ayo Belajar Memanfaatkan Peluang!”

06:35 on June 23, 2015 by Editor in Young CEO

tyas

Tyas Ajeng Nastiti (dok/pri) from www.ziliun.com

“Mulai dan tekuni. Tidak akan pernah ada kata sukses tanpa pernah memulai. Banyak entrepreneur muda yang berpikir terlalu lama akhirnya ide menjadi basi.” Begitu Tyas Nastiti, CEO Klastik Footwear, memotivasi.

Tak heran, kesuksesannya sendiri diraih karena ia mencoba memulai bisnis yang didapat justru karena faktor ketidaksengajaan. Saat itu ia masih duduk di bangku kuliah tahun ketiga. Waktu berkunjung ke industri kerajinan lokal, ia menjumpai banyak pengrajin yang memproduksi barang-barang bermerek luar. Terbersit di hatinya untuk memproduksi barang berkualitas bagus dengan merek lokal karena pasti akan direspon positif. Akhirnya berbagai survey pun ia jalani untuk menyiapkan brand-nya, termasuk mencari pengrajin sepatu. Tak sia-sia, sepatu bikinannya direspon positif oleh pasar, bahkan pasar mancanegara.

300 Pasang Sepatu Sebulan

sepatu klastik

Image from www.tyasnastiti.com

Meski terbilang baru, Klastik Footwear terbilang maju pesat. Setidaknya 200 hingga 300 pasang sepatu diproduksi dalam sebulan. Omzet yang dikantongi pun tak tanggung-tanggung untuk bisnis yang bisa dibilang baru. “Omzet kami setidaknya 600 juta rupiah setahun.” Aku Tyas. Ini didapat dari hasil memasarkan produk ke seluruh dunia. Kunci sukses pemasaran Klastik sedikit banyak dihasilkan dari tim digital marketing yang dijalankan khusus oleh ahlinya.

kantor klastik

image from www.tyasnastiti.com

Penjualan Online Yang Menggiurkan

Tyas lebih memanfaatkan socmed untuk kepentingan bisnis. Itu pula yang menjadikan brand-nya dikenal luas. Pemasaran online via instagram, dan social media lain menjadikan Klastik terkoneksi dengan mudah dengan pemburu sepatu etnik berbahan batik khas Indonesia ini. Konsumen rata-rata wanita, usia 19-27 tahun, yang menyukai fashion etnik namun moderen. Animo tinggi pasar mendorongnya berambisi menjadikan brand sepatu garapannya ini menjadi brand internasional.
Tyas bisa jadi termasuk anak muda yang memaksimalkan waktu dengan baik. Di saat anak muda seumurannya sibuk ngeksis berhaha-hihi demi status anak gaul di social media. Ia bergelut dengan bisnis yang mengantarkan namanya ke jajaran pebisnis muda Indonesia.

Belajar Dari Banyak Mentor

Sabar dan konsisten juga menjadi ramuan sukses perempuan mahasiswa S2 desain ITB, yang saat ini menjalani program business incubator di New York. Berbagai kesempatan belajar ia jabani, termasuk berguru pada mentor-mentor yang berpengalaman mengelola bisnis. Peraih penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2012 ini mendapatkan progress luar biasa dari bimbingan banyak pihak. Anak ketiga dari empat bersaudara, putri pasangan Purwoko Raharjo Mulyo dan Ismaini Zain, mengelaborasi bimbingan, pengalaman dan segala pengetahuan yang didapatnya dari bangku kuliah jurusan desain produk industri ITS, ke dalam produk-produk sepatu dengan unsur classy, ethnic and comfortable.

Punya keingingan menjalankan bisnis tapi tak kunjung terwujud hanya gara-gara kurang berpengalaman? Kalimat Tyas di awal pembuka artikel ini, bisa Stars people tulis di dinding kamar. Lagi pula sebaiknya belajar dilakukan sedini mungkin, bukan? Seperti kata penyuka novel Harry Potter ini, menyarankan tentang usia ideal belajar bisnis, “Banyak yang bilang bahwa belajar bisnis idealnya di usia 30. Tapi kalau usia 20 tahun sudah bisa dan ada kesempatan, mengapa tidak? (CEO Stars-FH)