Tommy Tjokro : Keep it short & simple!

04:17 on June 29, 2015 by Editor in Coffee Break

Berapa banyak kasus miskomunikasi di perusahaan? Berapa banyak customer marah habis-habisan dan masalah clear cukup diselesaikan dengan komunikasi? Berapa banyak pula kasus sengketa antara perusahaan dengan konsumen yang berujung ke meja hijau namun ternyata selesai perkara hanya dengan duduk semeja?
Stars people, kalau dirunut kembali sumber permasalahan dari kasus miskomunikasi tidak jarang karena urusan  sepele, dan lucunya lagi, selesai hanya lewat jalur kekeluargaan. Tidak sedikit kasus kesalahpahaman terjadi disebabkan dan juga berakhir karena komunikasi. Namun meski demikian, mengapa permasalahan komunikasi ini tidak juga dianggap sebagai problem serius sehingga segera dicari solusinya? Praktisi komunikasi sekaligus news anchor televisi, Tommy Tjokro, memiliki pandangan menarik yang layak direnungkan oleh kita sebagai profesional :
Makin sederhana makin baik
Kompleksitas dunia kerja memang memengaruhi gaya berkomunikasi pekerjanya. Urusan kantor yang ‘rumit’  sering kali menular pada gaya berkomunikasi orang-orang di dalamnya. Padahal bila kita mau mendengarkan nasihat  bijak “make it simple but signifikan”, kita tentu dapat menghindar dari kerumitan berkomunikasi. “Komunikasi sering dianggap sebagai ajang menunjukkan diri sendiri.” Kata Tommy menanggapi habit berkomunikasi di perkantoran. “Sampai-sampai seseorang sengaja memakai kosa kata yang sulit dimengerti agar terdengar keren. Padahal kunci komunikasi adalah menggunakan kalimat yang mudah dimengerti meski dalam topik sesulit apapun.” Tambah pria juara 1 Abang Jakarta Pusat tahun 2003 ini. Dia menyarankan pemakaian kalimat yang sederhana jauh lebih efektif ketimbang kalimat yang rumit. Baginya, keep it short and simple itu perlu untuk komunikasi yang efektif.
Makin Banyak Yang Sadar
Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, selain perlunya jam terbang, pelatihan formal juga dibutuhkan. Penting bagi perusahaan memanggil tenaga profesional di bidang ini untuk melatih skill berbicara karyawan. Banyak sebenarnya perusahaan yang makin sadar akan kebutuhan kecakapan ini. Tommy membetulkan bahwa kemampuan komunikasi orang-orang kita makin baik. Membandingkan orang-orang di luar negeri, dari pengalamannya selama tinggal di negeri orang, dan saat kembali ke tanah air, ada perubahan lebih baik pada profesional di negeri ini dalam hal berkomunikasi, meski ia tetap menyarankan untuk lebih banyak belajar lagi demi kemampuan yang prima.
Seorang Pemimpin Harus Bisa BerkomunikasiBicara sosok CEO, pembawa acara “Lantai Bursa” di saluran Bloomberg TV Indonesia, ini mengagumi sosok John Chen, CEO Blackberry. Baginya Chen adalah pemimpin bertangan dingin yang mampu mempertahankan bisnis perusahaan di tengah tekanan persaingan ketat. Pembawaannya yang lowprofile dengan tipe style yang casual saat diajak berbincang, memukau Tommy saat mewawancarainya. Sosok leader lain yang ia kagumi adalah Tony Fernandez. Bos Air Asia Group tersebut menurutnya pemimpin yang inspiring karena selalu mengedepankan pelanggan. Bicara CEO lokal, nama Dwi Sutjipto menarik hatinya. Pemimpin tertinggi di jajaran Pertamina tersebut layak diidolakan karena dikenal juga bertangan dingin namun ramah, bersahaja, rendah hati, dan tegas. Tipe pemimpin seperti ini, kata Tommy, perlu demi misi besar perusahaan ke depan. Lagi-lagi kemampuan berkomunikasi seorang pemimpin diperlukan untuk berkoordinasi dengan bawahan.
Komunikasi, bagaimanapun, bagian dari profesionalisme seseorang. “Paling dasar adalah menjalankan tanggung jawabnya penuh, mampu bekerja sama baik dengan atasan, rekan dan bawahan, berkomunikasi yang baik dan bisa menciptakan ide inovatif untuk mencapai tujuan atau misi dalam karir.” Tegas Tommy menjawab arti profesionalisme baginya. (CEOStars-FH)