Miliki Keberanian Untuk Mengikuti Kata Hati

06:11 on July 6, 2015 by Editor in CEO insight

“Mengingat bahwa Anda akan segera mati adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan pemikiran bahwa Anda akan mengalami kegagalan. Anda sudah telanjang, pada saat mati, tidak ada lagi alasan untuk tidak mengikuti kata hati.” Steve Jobs, CEO Apple.

Sejak menginisiasi berdirinya Apple, Steve Jobs sangat mempercayai intuisi atau kata hati dalam setiap langkah yang diambilnya. Saat berusia 20 tahun, pemuda penyuka komputer ini mengawali kelahiran Apple dari garasi rumahnya bersama dengan Steve Wozniak, sahabatnya.

Selama 10 tahun ia dan temannya bekerja keras membangun Apple hingga menjadi sebuah perusahaan besar yang menguntungkan dan meluncurkan produk andalan berupa komputer pertama, Macintosh.

Alih-alih menduduki posisi tertinggi, justru di perusahaan yang ia bangun, karena ketidak samaan visi dengan jajaran direksi, ia dipecat. Meski begitu, tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan aliran pemikiran dari dirinya. Dengan segala tekadnya, Steve Jobs kemudian mendirikan perusahaan komputer Next. Namun karena harga yang terlalu mahal, produk Next tidak laku di pasaran. Setelah itu ia menciptakan sebuah sistem operasi yang dibutuhkan Apple, dan menjualnya ke mereka. Kondisi inilah yang membuatnya kembali ke Apple dan menempati posisi CEO hingga akhir hayatnya.

Selain itu, ia mengakuisisi perusahaan animasi berbasis komputer yang hampir bangkrut, Pixar. Dengan tangan dinginnya, Pixar memproduksi film animasi berbasis komputer pertama, Toys. Film yang laris manis di pasaran bahkan hingga kini masih sering diputar di televisi Indonesia.

Kembalinya Steve Jobs ke Apple pada tahun 1997, perusahaan itu langsung melakukan gebrakan besar dengan meluncurkan produk yang membuat nama Apple berjaya di pasar saham, yaitu : iPhone, iPad, iPod, iMac, dan iCloud.

Kondisi pemecatan dirinya dari Apple disyukuri Steve Jobs sebagai sebuah kesempatan untuk mengembangkan kemampuan lain dalam dirinya. Bagi putra angkat pasangan Paul dan Clara ini, setiap kejadian adalah kesempatan untuk melakukan banyak hal di luar rutinitas waktu sebelumnya.

Dalam sebuah sambutan kelulusan mahasiswa Universitas Stanford, Steve mengatakan, “Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.

Pada tahun 2004, Steve harus menyerah pada kanker pankreas yang menggerogotinya justru saat baru saja ia dinobatkan sebagai CEO terbaik di Amerika dan berada di puncak kesuksesannya. Namun takdir kematian bukanlah akhir dari segalanya. “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar-benar menyadari kata hatimu.”

Ungkapan yang dibacanya dari sebuah buku itu membekas dalam dirinya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, ia selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri, jika ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?

Bila jawabannya selalu “tidak” maka itu artinya harus ada perubahan dalam dirimu. Hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Begitulah Steve Jobs memaknai hidup dan kehidupannya. Meski ia harus menyerah pada kematian pada tahun 2011, ia meninggalkan kenangan yang baik bagi keluarga, dunia usaha, rekan-rekan bisnis, dan bahkan para pembencinya. Baginya kehidupan adalah sarana untuk berkarya mengikuti kata hati. (CEOStars-TS)