Mengapa CEO Perlu Menulis Buku?

02:16 on August 27, 2015 by Editor in Capture

Percaya diri bukan hanya dalam urusan berbicara atau berhadapan dengan orang lain. Menulis pun juga membutuhkan kepedean yang cukup. Apalagi menulis sebuah buku. Apakah karena tidak punya skill cukup? Sayangnya bukan itu alasan utamanya.

Bila Stars people tergolong orang yang menyukai meluapkan isi kepala dan hati dalam bentuk tulisan, manfaat dari menulis berikut dapat menjadi mood booster untuk merealisasikan proyek menulis buku dalam waktu dekat :

● Melatih keahlian menulis
Menulis sebenarnya dilakukan oleh hampir semua orang dewasa ini. Disebabkan karena tren kemunculan platform media sosial yang menggila. Orang-orang punya alternatif dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Bandingkan dengan 20 tahun sebelum kemunculan sarana bersosialiasi dunia maya ini? Artinya, setiap orang punya potensi menulis. Bayangkan bila tulisan-tulisan Stars people di social media, diary atau note-note kecil dikumpulkan, sudah menjadi sebuah buku bukan? Jika menulis catatan-catatan pendek saja melatih keahlian menulis, apalagi menulis sebuah buku?

You Branding

● Mempertajam daya pikir
Shay David, Co-founder & Chief Revenue Officer Kaltura, sebuah perusahaan video platform, mengatakan bahwa kemampuan menulis karyawan di sebuah perusahaan berbasis teknologi perlu, mengingat kebutuhan akan kehalian menulis yang beragam. Menulis di presentasi power point, laporan, memo atau bahkan sekadar men-tweet. Problem menulis kebanyakan dimiliki oleh mereka yang berlatar belakang pendidikan keilmuwan teknik. Meski sebenarnya ini juga tergantung pada individu yang bersangkutan. Keahlian dalam menulis mengantarkan seseorang dapat menyampaikan dengan baik gagasannya pada orang lain.

● Menulis buku sama dengan sedang membaca buku
Berapa waktu yang biasa Stars people butuhkan dalam menulis status di media sosial? Itu hanya tulisan tidak resmi. Menulis buku tentu memaksa penulisnya untuk membaca banyak sumber. Secara otomatis pengetahuan akan bertambah dari kebiasaan menulis ini. Kondisi ini menguntungkan sang penulis karena pengetahuannya terus bertambah.

● Memperkuat personal brand CEO
Dari pengalaman mereka para penulis buku, menulis didasari atas hobi. Sofie Beatrix, founder AsaMediamu, sebuah agensi penulisan buku yang telah menelorkan buku-buku best seller seperti ON karya Jamil Azzaini, A Tribute dan Kitab Writerpreneur, berpendapat bahwa buku yang ditulis oleh CEO akan menjadi penguat profesionalisme sang Chief Executive Officer. Lewat buku, bukan hanya nama yang didapat, melainkan sebuah legitimasi profesionalisme.

● Transformasi pengetahuan
Keterbatasan waktu sering menjadi kendala bagi mereka, orang-orang sukses, dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman. Buku dapat menjadi solusi. Karena sebagai seorang leader, kemampuan menularkan pengetahuan merupakan satu dari keahlian utama pemimpin.

shutterstock

● Mengokohkan citra diri
Karena menulis buku tidak semudah menulis di media masa, dimana butuh data untuk memperkuat tulisan, menjadikan mereka para penulis buku sebagai orang yang capable. CEO sebuah perusahaan perlu menulis buku untuk memperkokoh personal brand. Brand image akan lebih terangkat lagi apabila buku yang ditulis disukai masyarakat dan menjadi buku terlaris.

Branding perusahaan
Donald Trump, Richard Branson, Steve Jobs, Warren Buffett, Larry Page dan beberapa pemimpin top dunia lainnya adalah contoh nyata bahwa seorang Top CEO perlu menulis buku. Atau setidaknya profilnya diangkat ke dalam sebuah buku. Di Indonesia kita mengenal CEO-CEO yang bukunya senantiasa best seller, sebut saja Hermawan Kartajaya, Dahlan Iskan, Chairul Tanjung, Ignasius Jonan serta sederet nama dari pemimpin sukses yang cukup dikenal. Seakan menjadi sebuah tradisi bahwa perusahaan besar dipimpin oleh pemimpin besar. Dan pemimpin besar pasti menghasilkan karya besar, salah satunya adalah buku. (CEO Stars-RD)

Logo
© 2017 PT CEO Stars Media
Jl Meruya Ilir Raya No.8 Jakarta Barat
Hotline:
0822.3122.3200
0896.3999.3200
0857.7200.3200
Follow Us