Inovasi Tidak Hanya Datang dari Teknologi

03:34 on June 2, 2016 by Editor in Capture, Community

Kemeriahan “Pentas Komunitas” telah selesai digemakan pada hari Sabtu, 28 Mei 2016 di Kampus BINUS fX. Pentas Komunitas adalah sebuah ajang pertemuan (kopdar) antar berbagai komunitas dari seluruh Indonesia yang merupakan kerjasama antara Komunita.id, Sebangsa (platform media sosial komunitas Indonesia) dengan BINUS University International.

Pada pembukaan acara yang dihadiri oleh mahasiswa BINUS dan lebih dari 30 komunitas, Gursel Ilipinar, Center for Innovation & Entrepreneurship (CIE) Manager mewakili BINUS University International memberikan sambutan yang hangat kepada seluruh peserta Pentas Komunitas. Di sela-sela kesibukannya, beliau bersama dengan Handrich Kongdro (CIE Coordinator) bersedia diwawancarai oleh CEO Stars Media.

Apa konsep dan tujuan dari Pentas Komunitas ini diadakan di BINUS University International?

Pertama-tama adalah karena kami menyadari bahwa komunitas lokal adalah salah satu elemen penting dari sebuah social movement yang mengarah pada social innovation dan social entrepreneurship. Sehingga penting bagi kami untuk ikut mengambil bagian dalam gerakan ini sebagai upaya open the door dalam berkomunikasi dengan komunitas-komunitas lokal yang ada sebelum mendorong mahasiswa kami untuk berinovasi dan berkontribusi kepada masyarakat.

Lalu apa yang menjadi konsep dari kampus BINUS University International sendiri?

Mengutip tagline BINUS University International, yakni People, Innovation, Excellence. Kami memandang manusia sebagai faktor terpenting yang akan mendorong kualitas pendidikan, termasuk di dalamnya berbagai komunitas. Kemudian terus berinovasi sesuai perkembangan dan perubahan sehingga kami dapat tetap terus relevan bagi stakeholders, ya, ini juga yang menjadi salah satu alasan didirikannya Center for Innovation & Entrepreneurship. Dan pada akhirnya, menghasilkan lulusan yang excellence dalam arti inovatif, entrepreneurial, dan berdampak bagi masyarakat.

Jika Anda lihat kampus ini, suasananya begitu nyaman, hangat, dan membuat orang yang datang ingin melakukan sesuatu, seperti contohnya hasil karya mahasiswa kami (sambil menunjuk mural artwork di salah satu dinding). Kampus fX ini adalah ekstensi dari kampus JWC di seberang Senayan City Mall, yang juga memiliki desain menarik.

Gursel Ilipinar, Manager Centre for Innovation & Entrepreneursip (CIE) BINUS University International

Gursel Ilipinar, Center for Innovation & Entrepreneursip (CIE) Manager, BINUS University International

Bicara tentang komunitas, sepertinya BINUS ingin merangkul komunitas-komunitas. Apakah memang BINUS ingin merangkul semua komunitas yang sejalan?

Seperti yang tadi sudah disampaikan bahwa komunitas bagi kami adalah pintu menuju masyarakat yang sebenarnya (grass root). Kemudian dengan mempertimbangkan salah satu fokus BINUS untuk terus menjadi relevan bagi industri maupun masyarakat, maka perlu bagi kami untuk merangkul dan melibatkan komunitas di dalam proses pendidikan.

Apakah akan ada program lain setelah acara ini?

Saat ini kami sedang membangun Student Village di lantai bawah Kampus BINUS JWC, salah satu bagiannya adalah garasi atau Innovation Park. Kami akan mengundang komunitas-komunitas untuk kembali berinteraksi dengan mahasiswa kami di sana.

Jika kita bicara tentang inovasi, orang seringkali mengkaitkannya dengan uang dan teknologi. Kalau memang demikian, mungkin yang bisa melakukannya hanya Amerika dan Jepang. Namun inovasi justru datang dari garasi, seperti yang dilakukan oleh Steve Jobs; Sergey Brin & Larry Page, the Google Boys. Seperti yang dikatakan oleh Roger Martin, former Dean of Rotman School of Management di University of Toronto: “How come large corporations get beaten by kids in the garage when these kids have absolutely nothing to begin with?” Oleh karena itu, kami percaya bahwa inovasi tidak selalu datang dari teknologi dengan pendanaan yang besar. Inovasi juga datang dari passion dan kemampuan kita memahami manusia. Kami menyebutnya human-centered design. Ketika kita dapat berempati dan memahami kebutuhan manusia yang seringkali tidak terlihat, maka kita dapat berinovasi.

Bagaimana Anda mengukur keberhasilan para mahasiswa di dalam proses belajarnya?

Mengenai pengukuran, kami telah bekerja sama dengan beberapa universitas jaringan European Union (EU) dalam mengembangkan pedagogi dan standar pengukuran yang bersifat student-centered learning, dan bukan teacher-centered learning.

Melompat kembali kepada sebuah pernyataan yang menarik bahwa inovasi tidak hanya datang dari teknologi, bagaimana konsep ini bisa muncul?

Sebenarnya konsep ini dikenal juga dengan istilah Design-Driven Innovation dan Design Thinking. Design Thinking mengadopsi proses berpikir para desainer untuk dapat diterapkan oleh orang-orang non-desain, seperti pebisnis, programmer, dan lainnya. Mengutip kembali pernyataan kami tentang human-centered design, proses berpikir ini selalu dimulai dari memahami manusia dan perilakunya yang terus berubah. Di lain sisi, masih banyak yang tidak menyadari perubahan tersebut dan terus berusaha menghasilkan sesuatu hanya dengan teknologi tanpa dasar pemahaman yang kuat, oleh karena itu banyak ‘inovasi’ yang tidak sesuai dengan kebutuhan yang sesungguhnya, atau bahkan sekedar memenuhi kepuasan pribadi. Sebagai contoh, cerita tentang teknologi alat transportasi canggih roda dua, Segway. Secara teknologi sangat canggih dan keren, bahkan dana yang dikucurkan pun tidak sedikit untuk peluncurannya. Namun pada akhirnya gagal total karena memang tidak ada kebutuhannya. Hal-hal seperti inilah yang kami terus dorong agar mahasiswa kami memahaminya, bahwa sebelum memasarkan produk, mereka harus tahu terlebih dahulu siapa yang akan memakai produk tersebut, apa aspirasi mereka, bagaimana behavior-nya, dan seterusnya.

Bagaimana strategi BINUS University International dalam mengimplementasikan pendekatan tersebut dalam perkuliahan?

Kami memiliki sebuah mata kuliah lintas ilmu (multi-disciplinary), bernama Project Hatchery, yang menggabungkan 10 fakultas kami: International Business, Marketing, Accounting, Hotel and Tourism Management, Communication, Computer Science, Information System, Fashion, Graphic Design, dan Film. Dalam mata kuliah ini mahasiswa pertama-tama akan belajar bekerja dalam tim dari latar belakang yang berbeda, kemudian kami memberikan mereka challenge untuk dapat dijawab dengan cara yang inovatif dan tentunya dengan mengkombinasikan perbedaan yang mereka miliki. Project Hatchery adalah salah satu upaya kami menerapkan pendekatan student-centered learning. Kalau dulu kita banyak belajar teori, teori, dan teori serta ujian, ujian, dan ujian. Di sini pembelajaran akan menjadi lebih seimbang dikarenakan mereka akan banyak melatih softskill yang justru lebih dibutuhkan. (CEOStars-TS)