Ini Yang Bisa Dilakukan Leader Untuk Hadapi Disruption Era

04:53 on August 12, 2018 by Arie Prestiwanti in Capture

Semua mendadak panik! Tidak hanya perusahaan kecil, perusahaan skala besar pun resah menghadapi situasi yang disebut era gangguan atau disruption era ini. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya menggambarkan situasi sekarang ini sebagai era yang menakutkan bagi perusahaan-perusahaan mapan. “Disruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan Dalam Peradaban Uber”. Pertumbuhan dunia memang terasa cepat dalam beberapa dekade, dan akan semakin cepat dalam beberapa tahun kedepan. Tak sedikit perusahaan-perusahaan raksasa dunia terpaksa tumbang menghadapi era ini. Lalu bagaimana membangun autopilot untuk bisnis dan memastikannya kuat menghadapi arus perkembangan dunia:

Mengasah intelektual
Pemimpin yang ideal harus memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, dalam arti bukan tentang jumlah atau tingginya gelar formal, tetapi lebih pada keluasan, kedalaman, dan kepekaan wawasan dalam menganalisa dan menyelesaikan masalah dalam suatu organisasi perusahaan, dan ini akan tercermin pada setiap kebijakan dan strategi yang diambil untuk perusahaan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Kreativitas dan Inovasi
Sebut saja Google, Amazon, atau Unilever, mengapa mereka bisa sukses besar ditengah gelombang disruption ini? Itulah inovasi, mereka melakukan “beyond-disruption”, dengan kreatifitas tinggi, menciptakan pasar baru tanpa perlu bersaing dengan yang sudah ada. Terbukti, mereka sukses besar tanpa harus mengalahkan siapapun, dan tetap lincah bergerak ditengah gempuran arus persaingan usaha.

Segmented market
Menurut pakar pemasaran, Hermawan Kertajaya, segmentasi pasar berarti melihat pasar secara kreatif. Segmentasi ini akan membantu seorang leader untuk fokus merancang strategi dalam memenangkan hati calon buyer. Segmentasi pasar yang tepat akan menghemat biaya, mempermudah positioning, dan memperkuat daya saing terhadap kompetitor.

Emotional Bonding
Mengerjakan sesuatu yang menyenangkan di dunia kerja, terbukti mampu meningkatkan produktivitas. Menurut survey bertajuk “Labor of Love” yang dilakukan oleh Virgin Pulse, mengungkapkan bahwa apa yang karyawan butuhkan untuk mencintai pekerjaan mereka adalah hubungan yang baik dengan pimpinan. Bahkan 60% dari 1.000 karyawan tetap mengatakan, emotional bonding yang diciptakan di lingkungan kerja, berdampak positif pada tingkat fokus dan produktivitas mereka di tempat kerja, dan 44% juga mengatakan bahwa emotional bonding berdampak positif terhadap menurunnya tingkat stress.

Network
Jejaring adalah senjata yang ampuh dalam bisnis. Semakin lebar dan berkualitas network yang Stars people jalin, maka peluang untuk melebarkan sayap bisnis akan semakin besar. Buat rencana, fokus, dan konsisten pada inti dari pengembangan bisnis dalam berjejaring, maka peluang bisa datang disaat yang tidak kita sangka, hingga sampai pada keputusan investasi tak ternilai, dan mengantarkan kita pada pertumbuhan bisnis yang stabil.

Kebebasan finansial
Kebebasan finansial berarti kita bisa membuat keputusan hidup tanpa terlalu memikirkan tentang dampak keuangan, karena memang sudah disiapkan untuk keputusan tersebut. Stars people harus memiliki kendali penuh atas keuangan untuk membangun bisnis yang “settle” ini. Senada yang dikemukakan Robert T Kiyosaki, “financial freedom is much more than having money. It’s the freedom to be who you really are and do what you really want in life”. Saat berada di titik ini, hanya diperlukan tindakan bijak, perhitungan matang dan analisa tajam dari kapasitas seorang leader untuk meletakkan “autopilot chip” pada bisnisnya.

Perkuat spiritualitas
Saat ini kecanggihan teknologi seakan terus berpacu menyamai otak manusia. Melalui Neuralink, SpaceX dan CEO Tesla, Elon Musk sedang mengembangkan perangkat penghubung untuk mencangkokkan langsung otak dengan komputer. Perusahaan yang masih dalam tahap awal keberadaannya ini dan tidak memperbolehkan kehadiran publik dalan bentuk apa pun, berpusat pada penciptaan perangkat yang dapat ditanamkan di otak manusia, dengan tujuan akhir membantu manusia bergabung dengan perangkat lunak dan mengikuti kemajuan teknologi komputer. Jika kecanggihan-kecanggihan teknologi seperti ini tidak diimbangi dengan menguatnya sisi spiritualitas pada manusia, dipastikan dunia tak akan bertahan lama. Penting untuk memperkuat keyakinan dan spiritualitas seorang leader, agar mampu selalu memimpin dengan tetap mengingat keberadaan Sang Pencipta. (CEO Stars-AP)