Industri Pariwisata Indonesia Harus Go Digital

10:12 on September 16, 2016 by Editor in Capture
Industri Pariwisata Indonesia Harus Go Digital

Industri pariwisata sedang mengambil momentum di tengah kelesuan beberapa sektor andalan seperti: minyak dan gas bumi, batu bara, serta minyak kelapa sawit. Industri pariwisata sangat mungkin melakukan lompatan yang lebih tinggi di bidang ekonomi. Demikian keyakinan yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan di hadapan peserta rapat koordinasi nasional (Rakornas) III Pariwisata 2016.

“Hanya sektor pariwisata yang terus naik. Kalian harus bangga menjadi insan pariwisata,” ujar Luhut saat memaparkan perbandingan kondisi pariwisata dengan sektor unggulan nasional di Ecovention, Ecopar Ancol, Jakarta, 15-16 September 2016.

Purnawirawan bintang empat TNI Angkatan Darat ini terus mengingatkan agar meningkatkan pelayanan di bidang pariwisata, seperti membangun hospitality industry. Selain itu, Luhut berpesan agar industri pariwisata dibantu dengan penurunan biaya logistik. Rata-rata biaya logistik nasional saat ini mencapai 14,1 persen. Bahkan Jabodetabek lebih mahal, mencapai 15,3 persen, Surabaya 13,7 persen, Medan 15,6 persen, Makassar 11,7 persen.

Luhut mengisyaratkan, ke depan sistem pengangkutan barang tidak boleh lebih dari 5 persen karena di Jepang saja hanya 4,9 persen. “Begitu juga dengan regulasi private jet, yacht, cruise, semua sudah di-deregulasi. Saya kontak dengan otoritas di Singapore, berapa biaya sandar, berapa service, jauh lebih murah dan lebih cepat. Karena itu, saya minta standarnya harus sama dengan negara tetangga. Kalau enggak, kita enggak bisa bersaing,” pinta Luhut.

Lebih lanjut menurut Luhut, industri pariwisata harus mengikuti perkembangan digital yang semakin ngetren di masyarakat. Mengingat ke depan, semua sektor akan mengarah ke sistem informasi digital.

Hal senada diungkapkan Menteri Pariwisata RI Arief Yahya. Menurut Menpar, sistem digital bakal membawa gerbong Kemenpar melompat jauh menuju target menjaring 20 juta wisatawan pada 2019. Karena itu, pada Rakornas III Pariwisata akan dikupas tuntas go digital sebagai jurus baru promosi pariwisata oleh Kemenpar.

Dalam acara bertema “Go Digital, Be the Best”, ratusan stakeholder pariwisata nasional akan menyepakati jurus promosi baru tersebut menjadi “New Hope Wonderful Indonesia”. Dengan perubahan strategi ini diharapkan brand pariwisata nasional akan naik panggung sebagai the best digital marketing in the world.

Brand pariwisata Indonesia diharapkan menjadi nomor satu di dunia dan menyentuh semua orang di muka bumi. “Utamanya, Wonderful Indonesia harus tumbuh dan menyalip dua rival utama, Malaysia Truly Asia dan Amazing Thailand,” ucap Arief.

Dengan disegerakannya industri pariwisata untuk go digital, maka hal ini merupakan peluang baru bagi siapa saja untuk mendirikan start up di bidang pariwisata, atau mengelola dengan lebih baik biro wisata yang telah ada. (CEO Stars-TS)