Indonesia Butuh Mesin Pencetak Pemimpin

02:09 on October 23, 2015 by Editor in Capture, CEO insight

Seorang pemimpin yang baik tentu akan melakukan berbagai macam persiapan untuk menyiapkan calon penerusnya. Bukan hanya operasional organisasi yang dipikirkan, nasib orang-orang di dalamnya juga ditentukan oleh kehadiran orang baru tersebut. Masalahnya, menyiapkan pemimpin tidaklah semudah seperti merekrut tenaga pengganti pada pos-pos lain. National President of JCI Indonesia membagi pengalamannya kepada CEO Stars, tentang alasan mengapa leader menjadi ‘barang’ langka di banyak organisasi.

Jika di lingkungan Stars people merasa kesulitan menemukan sosok pemimpin, jangan-jangan benar apa yang dikatakan oleh National President of JCI Indonesia, Ida Bagus Agung Gunarthawa, bahwa negeri ini butuh mesin produksi pencetak pemimpin. Berikut wawancara CEO Stars dengan pria yang juga menjabat sebagai CEO PT Laguna Artha Media :

Di banyak organisasi nama Bapak rata-rata tercatat di deretan daftar pimpinan, belajar leadership dari siapa?
Saya mendapat inspirasi banyak dari ayah saya, Ida Pedanda Gede Made Buruan.

Apa yang Bapak lihat waktu itu dari beliau?
Saya sering ikut beliau di acara-acara yang melibatkannya di komunitas, seperti acara adat dan keagamaan. Jumlah pesertanya kadang ribuan. Setahu saya tidak ada ya yang namanya modul kepemimpinan. Cuma memang sejak kecil saya suka sekali dengan yang namanya organisasi. Saya bergabung di pramuka. Dari situ saya belajar banyak tentang kepemimpinan.

Adakah pesan Ayahanda yang paling Anda ingat?
Berbuatlah yang terbaik, untuk bangsa dan negara.

Tapi jika bicara selera pribadi, siapa sosok pemimpin idola Bapak?
Bung Karno. Saya ini orangnya suka sesuatu yang perfect. Beliau (red : Presiden Soekarno) kan terkenal dengan politik mercusuarnya. Terlepas dari hal tersebut memunculkan pro & kontra, as a nation, proudness itu ada. Sama dengan di sebuah organisasi, orang itu harus dibangunkan terlebih dulu rasa kebanggaannya. Saya suka menangis setiap mendengar lagu Indonesia Raya. Tergugah saja. Organisasi itu harus memiliki value. Saya gabung JCI karena value-valuenya.

Apakah karena itu pula Bapak membuat kesan ‘megah’ di perhelatan National Convention JCI kali ini yang sempat dipuji beberapa pihak?
Menurut saya membangun rasa kebanggaan terhadap organisasi itu perlu. Maksimalkan diri, prinsip saya adalah push to the limit.

Bicara leadership, bagaimana Bapak memaknainya?
Leader itu harus bisa menciptakan perubahan positif dan punya nilai kesungguhan.

Maksudnya kesungguhan?
Uhm, saya bukan tipe orang yang berbicara gamblang. Begini, leader itu harus benar-benar punya niatan penuh. Contoh, saat ia memilih menjadi pemimpin di sebuah organisasi niatannya jangan karena ada tendensi macam-macam, seperti cuma menjadikan sebagai stepping stone, kemudian setelah menjabat kemudian berpikir untuk mengincar sesuatu, jangan seperti itu. Harus bersungguh-sungguh.

Mengapa Bapak memilih terlibat di banyak organisasi, bukankah itu justru akan menjadikan (peran) Bapak tidak maksimal?
Sebenarnya saya tidak memilih jabatan tersebut. Nama saya diusulkan.

Banyak pihak mengeluhkan sulitnya menemukan sosok leader, menurut Bapak kenapa?
Yaaa.. karena selama ini yang saya tahu di banyak organisasi, pemimpin itu ditunjuk. Bukan karena memang sudah disiapkan. Mesin produksi pencetak leader tidak banyak. Alasan lain, kebanyakan ada unsur money politic. Misalkan di sebuah organisasi seseorang ditunjuk menjadi pemimpin dalam satu periodenya lima tahun. Periode berikutnya ia dipilih kembali, berarti dalam 10 tahun cuma ada 1 orang pemimpin. Berbeda dengan di JCI yang masa jabatannya 1 tahun. Sehingga dalam 10 tahun, JCI punya 10 leader. Menariknya, semua berangkat dari nol. Seseorang tidak bisa serta merta masuk kemudian menjadi pejabat. Ia harus memulai dari bawah. Di situlah perbedaan JCI dengan organisasi lain. Spirit sportifitas dan fairness dijunjung tinggi.

Masih seputar leadership, dari pengalaman menjadi National President JCI Indonesia, bagaimana Bapak membandingkan Indonesia dengan negara lain?
Kita jauh tertinggal.

Seperti apa memang (JCI) negara lain?
Sistem mereka sudah jalan, sementara di kita masih belum. Itulah mengapa saya lebih suka membangun proudness. Karena apabila seseorang bangga pada organisasinya, maka ia akan bersedia melakukan banyak hal untuk organisasi tersebut.

Apa persyaratan yang dibutuhkan agar bisa menjadi leader?
Sebenarnya untuk menjadi pemimpin itu tidak harus bisa semuanya, saya pikir tidak begitu. Cukup dibekali apa yang dibutuhkan. Dan jangan lupa, (membangun) values seperti saya sampaikan di awal tadi, termasuk menciptakan perubahan dan memiliki nilai kesungguhan. (CEO Stars-FH)