IKM Berbasis Budaya Peluang Baru Ekonomi Kerakyatan

09:34 on November 7, 2016 by Editor in Capture
IKM Berbasis Budaya Peluang Baru Ekonomi Kerakyatan

IKM berbasis budaya merupakan terobosan baru dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan di era digital. Indonesia yang kaya akan budaya dan dijaga secara turun temurun eksistensinya dapat dimanfaatkan bagi masyarakat daerah terutama untuk tujuan kesejahteraan ekonominya.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, banyak potensi IKM (Industri Kreatif Menengah) berbasis budaya yang memiliki daya saing, di antaranya industri kreatif. “Misalnya saja batik yang khas dari berbagai daerah di Indonesia, tenun, songket, dan berbagai kerajinan khas Indonesia lainnya,” ujarnya melanjutkan.

Ketika produk-produk berbasis budaya tersebut diberi sentuhan nilai tambah yang tepat, pasar ekspor menjadi peluang besar untuk dibidik. Untuk mewujudkannya dibutuhkan akses permodalan yang dapat dijangkau oleh para pelaku IKM untuk memulai dan mengekspansi usahanya, serta akses pasar untuk mendongkrak pelaku IKM agar meningkatkan kreativitas dan kualitas produknya guna memenuhi permintaan pasar yang akan dituju.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri, karena para pelaku IKM di daerah rata-rata berpendidikan terbatas sehingga dibutuhkan pembinaan dan pelatihan untuk memerluas wawasan. Dengan tersedianya SDM berkualitas, informasi akses pasar, dan produk yang memiliki ciri khas, IKM berbasis budaya Indonesia bukan tidak mungkin mampu menembus pasar dunia.

Komitmen dan dukungan pemerintah

Presiden Joko Widodo mengatakan industri kreatif dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk bersaing dengan negara lain dalam perekonomian global. “Kekuatan kita ada di sini (IKM berbasis budaya), industri kita kalah sama Jerman dan lain-lain. Sisi murah kalah dengan Cina. Dari ekonomi kreatif untuk loncatan itu ada, bagaimana ini disiapkan, bagaimana strategi direncanakan secara detail dan komprehensif,” ungkap Presiden.

Sementara itu Kementerian Perindustrian menyatakan komitmennya untuk memacu industri kreatif nasional agar memerluas ekspor ke negara lain, seperti pasar Amerika Serikat dan Timur Tengah. “Peluang ekonomi dapat dimanfaatkan industri kreatif dari naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah, yaitu memperbanyak volume ekspor,” kata Menteri Perindustrian, Saleh Husin lebih lanjut.

Menurut Menperin, pada 2014-2015 nilai tambah dari sektor ekonomi kreatif diperkirakan mencapai Rp 111,1 triliun, dan penyumbang nilai tambah tertinggi tersebut, antara lain subsektor mode, kuliner, dan kerajinan. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh subsektor kerajinan dengan laju pertumbuhan ekspor sebesar 11,81%, diikuti fashion dengan pertumbuhan 7,12%, periklanan sebesar 6,02%, dan arsitektur 5,59%.

Kemenperin terus mendorong pengembangan industri kreatif nasional karena pertumbuhannya semakin meningkat sekitar 7% per tahun. Menperin meyakini, ekonomi kreatif dapat diandalkan menjadi kekuatan baru dalam meningkatkan perekonomian nasional. “Apalagi Presiden Joko Widodo juga menegaskan bahwa saat ini merupakan era ekonomi kreatif dan harus menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia,” ucap Menperin.  (CEO Stars-TS)