CEO Dalam Falsafah Budaya Jawa

04:11 on June 29, 2015 by Editor in Capture

Dalam sebuah perusahaan seorang CEO menduduki jenjang karir tertinggi. Pada umumnya seorang CEO bertugas sebagai seorang komunikator, pengambil keputusan, pemimpin, manajer, dan eksekutor. Sebagai komunikator, seorang CEO harus berhubungan dengan pers dan lembaga-lembaga lain yang terkait secara langsung maupun tidak langsung, serta manajemen dan karyawan. Sebagai pengambil keputusan,  tugasnya meliputi keputusan tingkat tinggi terkait kebijakan dan strategi. Sebagai pemimpin, CEO memberi saran kepada dewan direktur, memotivasi karyawan, dan menggerakkan perubahan dalam perusahaan. Sementara sebagai manajer, CEO mengawasi jalannya operasional perusahaan setiap hari, bulan, dan tahun

Makin tinggi seorang pemimpin, seharusnya makin tinggi hakekat hidupnya, bukan duniawinya. Ketika seseorang berada dalam posisi sebagai CEO, seharusnya ia lebih berfikir tentang hakekat kepemimpinan itu sendiri bukan cuma sekadar sebuah posisi duniawi.

Menggali hakekat kepemimpinan dalam falsafah budaya Jawa, sesungguhnya menjadi seorang pemimpin adalah sebuah jalan untuk mukti bukan sekedar untuk mencapai mulyo. Mukti adalah sebuah jalan pengabdian bukan sekedar mencapai kemulyaan. Menjadi seorang CEO harus berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Sebuah kebenaran memang pahit untuk disampaikan dan besar resiko yang akan dihadapi. Tapi bagaimanapun kebenaran harus disuarakan oleh seorang CEO dengan strategi yang tepat, sekalipun dia harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak menyukainya dalam kebenaran.

Seorang CEO juga harus memiliki rasa ikhlas yang harus terbangun dari hari ke hari dan terus meninggi seiring meningginya posisi jabatannya. Keikhlasan akan membuat seorang CEO selalu mawas diri demi kepentingan bersama. Rasa ikhlas tidak bisa dijalankan sendiri, seorang CEO harus memiliki orang-orang kepercayaan di sekelilingnya yang akan dengan ikhlas juga memberikan masukan, saran bahkan kritik yang membangun demi kebaikan yang harus dijaga bersama.

Adakalanya seorang CEO tidak harus berada di depan. Bisa jadi ia menyisih ke pinggir lapangan, bahkan surut sementara ke belakang untuk memastikan bahwa armada yang dipimpinnya baik-baik saja. Pada saat seorang CEO berada di pinggir atau di belakang , ia akan lebih mudah melihat ke seluruh ruang yang dipimpinnya. Ia akan mendengar banyak hal dari orang-orang di luar wilayah kepemimpinannya, sebagai sebuah masukan yang berarti untuk memperbaiki sikap, dan mengambil keputusan di saat yang tepat demi keselamatan armada yang dipimpinnya. Meski di belakang, seorang CEO bisa mengarahkan jalannya roda organisasi dengan dukungan yang kuat dari orang-orang yang dipercayanya membantu menjalankan sistem yang telah dibentuk.

Di saat lain, seorang CEO harus mampu menjadi koco pengilon atau cermin bagi siapapun yang berada dalam pengayomannya. Namun demikian, seorang CEO tetaplah manusia yang bisa salah. Tapi hakekat kepemimpinan harus dipahami bahwa kesalahan bisa diminimalisir sekecil mungkin. Ini bagian yang terberat bagi seorang CEO. Ia harus pandai menjaga sikap, perilaku, ucapan dan perintah. Karena ia menjadi cermin bagi sekelilingnya. Managemen emosi dan mental harus benar-benar dikuasainya agar bisa tetap memberikan kenyamanan bagi yang dipimpinnya.

Seorang CEO yang ikhlas, adalah pemimpin yang tidak cuma merasa jadi kepala, melainkan melu handarbeni, merasa memiliki terhadap apa yang dipimpinnya. Ibarat seorang kapten terhadap kapal dan seluruh isinya. Maka apapun akan dilakukannya untuk menjaga keselamatan, kebaikan dan kebersamaan di dalamnya. Apapun, selagi dalam jalur kebaikan yang dibenarkan. Itu sebabnya kadang sebagai seorang kapten kapal, ia harus tegas meski berat hati untuk melemparkan satu-dua penumpang yang rentan membahayakan banyak orang, ke laut. Demi menyelamatkan ratusan orang lain dalam kapal yang dikemudinya.

Satu hal yang harus dipahami lagi adalah CEO bukanlah jabatan yang permanen. Namun seorang CEO dapat membuat perubahan yang sangat berarti selama dalam masa jabatannya. Untuk itu, seorang CEO seharusnya memahami apa yang sebaiknya dilakukan dalam masa jabatannya, untuk kepentingan perusahaan dan seluruh karyawannya. Bagaimanapun Positional Branding sebuah perusahaan ada di tangan seorang CEO. (CEOStars-TS)