BIRUDEUN, Mengajak Dunia Berbahasa Madura

03:15 on July 14, 2015 by Editor in Capture, Coffee Break

Bila Stars people selama ini hanya mengenal Probolinggo karena eksotisme Gunung Bromonya yang tersohor ke seluruh dunia, atau merdunya Jazz Gunung yang ‘menyejukkan’ telinga para penikmat musik tersebut, kami sarankan agenda perjalanan wisata ke depan di kota ini perlu ditambah. Kenali kekhasan kota penghasil mangga dan anggur tersebut lewat kaos kata-kata bahasa Madura, Birudeun.

Geser Kanan :  Tulisan panduan berbahasa Madura untuk pengunjung di toko Birudeun.

Geser Kanan : Tulisan panduan membuka pintu dalam bahasa Madura bagi pengunjung toko Birudeun.

Ditertawai Katak
Dari awal masuk gerai yang berlokasi di Jalan Pahlawan Probolinggo, ini kita sudah disuguhi atmosfer bahasa Madura. Perhatikan saja tulisan di pintu masuk toko : Erset Ka Bherek. Maksudnya (pintu) geser ke kanan. Disambung di bawahnya tertulis : Tak Langkong Entep Pole Tretan. Yang dimaksudkan untuk meminta pengunjung agar menutup pintu kembali setelah membuka. Memasuki distro dengan konsep ‘rumahan’ ini, mata pengunjung langsung disuguhi pemandangan kaos berbahasa Madura di sepanjang dinding ruangan. Beberapa di antaranya tertulis “Elek Gellek Katak“, terjemahan dari “Ditertawai Katak”. Ada pula “Tok Mal Tok” yang merupakan ucapan sehari-hari orang Madura untuk menyebut sesuatu yang meletup-letup.

Untuk Oleh-Oleh : Kaos Birudeun yang sudah dikemas siap dikirim ke pemesan.

Souvenir Yang Menarik : Kaos Birudeun yang sudah dikemas siap dikirim ke pemesan.

Sampai Dipesan Langsung Dari Singapura & Australia
Siapa sangka bisnis yang tadinya cuma diniati iseng itu justru direspon positif oleh pasar. Teringat oleh Agus Salim, Chief Executive Officer Birudeun, bahwa ia kala itu hanya memroduksi 10 kaos untuk kemudian dititipkan di tempat jasa pelayanan foto kopi. Kini, kaos garapannya sudah memiliki desain ke-415. Artinya setidaknya 8.300 pcs kaos ia hasilkan dari bisnis rumahannya. Jumlah pelanggan jangan ditanya. Birudeun sempat dipesan dari Singapura dan Australia loh! Ia meyakini bahwa segala hal yang dikerjakan dengan penuh keyakinan dan dijalani dengan sabar pasti menemukan jalan. “Anda yakin lalu mengucap bismillah saja, pasti bisnisnya berhasil! Itu sudah modal.” Selorohnya. Bisnis t-shirt miliknya contohnya. Meski sempat mengalami masa-masa sulit di awal karena harus pecah kongsi dengan tiga orang lain yang menjadi mitra bisnisnya, Agus mampu survive. Sekarang, 17 orang karyawannya setia membantunya membesarkan brand kaos bahasa Madura satu-satunya di Jawa Timur tersebut.

Nyaman Serasa Di Rumah Sendiri : Interior toko Birudeun yang bernuansa rumahan.

Nyaman Serasa Di Rumah Sendiri : Interior toko Birudeun yang bernuansa rumahan.

Belajar Hidup Dari Filosofi Hidup
Kreatifitas Agus dalam membidik peluang bisnis tak lepas dari nilai-nilai hidup yang ia yakini. Tidak sedikit beberapa kosa kata yang diangkat ke dalam kaos produksinya adalah karena pengalaman hidup pribadi. Birudeun muncul sebagai bentuk keprihatinannya sebagai orang peranakan Madura yang banyak tidak mengenal bahasa warisan leluhurnya. Ia merasa terpanggil untuk mengenalkan kembali bahasa daerah yang merupakan satu di antara tujuh ratusan bahasa daerah di Indonesia tersebut. Bahkan idenya sendiri muncul saat chatting dengan seorang teman sesama jurnalisnya. Ia dibuat mengernyitkan dahi oleh si teman karena mengetikkan “Elek Gellek Katak” dan “Gepper” waktu itu. “Kenapa saya nggak pernah dengar kata-kata itu ya?” Kenangnya. Masih teringat pula olehnya kala itu saat ngobrol online dengan seorang teman tadi menjumpai kata yang berarti kupu-kupu bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, untuk menyebut kata kedua tersebut. Birudeun sendiri bermakna hijau daun.

Pantang Memarahi Karyawan
Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari obrolan CEO Stars sore tadi dengan pria kelahiran 22 April, 41 tahun lalu tersebut. Kesederhanaannya seakan mewakili suara hati yang ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa hidup memang perlu dijalani dengan ulet dan sabar. Ia juga menekankan pentingnya memikirkan orang lain. “Urusan perut karyawan harus diperhatikan.” Timpalnya. Ada kebiasaan Agus yang juga patut dicontoh, ia tak suka memarahi karyawan. Karena baginya itu akan berbuntut panjang. Bisa-bisa “Tak Nyaman Ngakan!” Maksudnya? Coba Stars people tanyakan langsung artinya ke waiter di Birudeun. (CEO Stars-FH)