Belajar Menciptakan Value Dari CEO Top Dunia

11:56 on October 29, 2015 by Editor in Capture, CEO insight

Apa yang Stars people harapkan dari bisnis yang sedang dijalankan sekarang? Profit milyaran, buka cabang dimana-mana, menjadi market leader atau bisnis yang menjadi trend setter? Cerita sukses 5 CEO top dunia ini bisa jadi inspirasi untuk menciptakan nilai-nilai dalam bisnis.

1. Mark Zuckerberg
Siapa tak kenal CEO Facebook ini? Dia menggabungkan kemampuan teknis yang tinggi di bidang teknologi informasi dengan komunitas sosial. Di awal membuat platform jejaring sosial ini, yang ada di benak Mark hanyalah bagaimana ia bisa ‘bereunian’ dengan teman-teman sekolahnya dulu yang sudah hilang kontak. Dari ide sederhana tersebut, kini berkembang menjadi aplikasi teknologi yang menjadi kebutuhan orang di seluruh dunia. Bila kebanyakan founder menjual bisnisnya setelah mencapai harga jual tinggi, berbeda dengan Mark yang lebih memilih mempertahankan Facebook. Dia yakin bahwa akan ada potensi yang lebih besar dan lebih baik di masa depan. Intuisinya tepat. Banyak analis bisnis memperkirakan nilai Facebook mencapai 100 milyar dolar saat ini.

2. Steve Jobs 
Jika Stars people menyukai produk Apple karena fiturnya yang praktis dan simple, bisa jadi Anda setipe dengan Steve Jobs. Kesederhanaan pribadi yang menjadi trademark Jobs sudah jadi rahasia umum, dan itu terimplementasi di produk keluaran perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut. Selain itu CEO Apple ini adalah tipe visioner. Kesuksesan Apple hingga sekarang tak lepas dari visinya. Sempat digulingkan dari perusahaan yang dibangunnya sendiri pada 1984, namun para penerusnya : John Sculley, Michael Spindler, dan Gil Amelio, gagal mengangkat perusahaan tersebut. Jobs kemudian ditawari untuk kembali pada 1997 dengan menunjukkan kemampuannya yang luar biasa. Ia memberikan sisi artistik pada produk dan menciptakan aitem yang layak diimpikan para pengguna. Keputusan besar mengembangkan iTunes dan iPod yang sebelumnya dicibir banyak pihak menuai sukses besar.

3. Bill Gates 
Bill Gates mendirikan Microsoft pada pertengahan tahun 1970 bersama Paul Allen. Perusahaan ini merupakan pemain kunci berpengaruh dan mengukuhkan diri menjadi perusahaan teknologi terbesar di dunia. Dia sering menuai kritik atas gaya manajemennya, menetapkan kendali ketat atas seluruh strategi produk perusahaan dan secara agresif memperluas penggunaan produknya. Beberapa produk yang penting bagi Microsoft dikembangkan langsung di bawah pengawasannya, termasuk Microsoft Windows dan Microsoft Office. Bill Gates mundur dari CEO Microsoft pada tahun 2000, lalu bersama istrinya memfokuskan diri pada kegiatan sosial yang berada di bawah naungan Bill & Melinda Gates Foundation. Pria yang peduli akan kesehatannya ini, sejak muda selalu mempunyai rasa ingin tahu. Hal tersebut mendorongnya untuk terus belajar dan belajar.

4. Jeff Bezos
Amazon.com yang didirikan Jeff Bezos tahun 1994 ini merupakan sebuah toko buku online. Gaya kepemimpinannya yang revolusioner menjadikannya pengusaha dot-com paling sukses dengan penghasilan Milyaran Dolar Amerika Serikat. Prestasi terbaiknya adalah mengembangkan situs Amazon.com dengan model bisnis yang luar biasa efisien. Saat ini, Amazon.com memiliki kapitalisasi pasar sebesar 96 Milyar Dolar Amerika, yang membuatnya menjadi perusahaan ritel online terbesar di dunia.

5. Howard Schultz 
Pernah membaca buku filosofi Starbucks? Di banyak tulisan memang menyebut Howard Schultz, sang CEO yang membangun bisnis penuh valuable. ia dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang inspirasional, antusias, dan kharismatik. Sejak menggantikan Jim Donald pada tahun 2007 yang diminta mundur karena penjualan menurun, Howard pun tertantang bagaimana mengolah bahan yang murah tapi mampu memberikan cita rasa tinggi. Dia pun mengalami persaingan ketat dengan beberapa restoran cepat saji sejenis. Ekspansinya sukses dan terus meningkat, bahkan tercatat sebagai kedai kopi terbesar di dunia dengan 20.336 kedai di 61 negara. Bakat marketing serta wawasan yang luas mengenai peluang dan kesempatan membuatnya mampu menciptakan olahan kopi yang mendunia.

“Kami tidak boleh membiarkan konsumen kecewa setelah mereka berjalan kaki mengeluarkan effort untuk mengunjungi kedai kami.” Jelasnya di sebuah forum menegaskan nilai yang selalu ia anut dalam bisnis : Love and Humanity. Howard juga paling anti untuk terlalu fokus mengejar laba namun akhirnya mengurangi hak-hak karyawan. Memberi penghargaan atas kecepatan layanan tetapi lupa pada hal-hal paling mendasar yakni brand dan service itu sendiri. “Kami ini perusahaan kopi, bagaimana mungkin kami melupakan cara membuat kopi?” (CEO Stars-AP)