Beginilah Cara 20 Brand Lokal Mendunia

11:29 on March 12, 2016 by Editor in Capture

Menembus pasar global sudah pasti menjadi impian setiap produsen lokal, namun jalan yang ditempuh tentu tak semudah memimpikannya. Inilah 20 brand lokal yang berhasil menembus pasar internasional, berikut rahasia suksesnya :

1. Aqua

Apa yang terlintas di benak Stars people menyebut air minum dalam kemasan? Aqua bukan? Tak hanya merajai pasar air minum dalam kemasan di Indonesia, merek ini juga sukses menembus pasar mancanegara. Sejak 1987 produk ini telah diekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Fillipina, Australia, Maldives, Fuji, Timur Tengah dan Afrika. Bahkan menurut survei Zenith International, Aqua merupakan merek air minum dalam kemasan (AMDK) terbesar di wilayah Asia, Timur Tengah dan Pasifik. Aqua terlahir atas ide almarhum Tirto Utomo pada tahun 1974, Ia adalah orang Asia pertama yang dinobatkan sebagai tokoh pencetus dan penggerak industri AMDK di kawasan Asia dan Timur Tengah serta masuk dalam Hall of Fame industri bottled water. Pada tahun 1998, karena ketatnya persaingan dan munculnya pesaing-pesaing baru, Lisa Tirto sebagai pemilik Aqua Golden Mississipi sepeninggal ayahnya, Tirto Utomo, menjual sahamnya kepada Danone pada 4 September 1998. Akusisi tersebut dianggap banyak pihak sebagai langkah tepat.

Essenza

2. Essenza

Essenza merupakan brand ubin porselen yang dirintis PT Intikeramik Alamsari Industri sejak tahun 1991, dan telah berhasil menembus pasar Singapura, AS, juga negara-negara Asia, Eropa, Afrika, dan Timur Tengah. Usaha memasuki pasar global diawali dengan saat mengikuti pameran di Italia pada 1996, dan pada pameran tersebut perusahaan ini mendapat pengakuan kualitas, sehingga akhirnya bisa mengekspor keramik lantai ke Italia yang merupakan produsen keramik lantai berkualitas dunia. PT Intikeramik membuktikan konsistensi kualitas produknya sesuai standar internasional dengan diperolehnya sertifikat manajemen mutu ISO 9001. Membangun brand association yang tepat, sebagai produk berkualitas tinggi dengan tagline “No Tile Like It” sukses besar. Kiat PT Intikeramik adalah rajin mengedukasi pasar. Disamping perusahaan ini juga konsisten mengikuti pameran di mancanegara, yang menjadikannya sebagai merek terpercaya.

3. Indomie

Kontribusi penjualan Indomie terhadap pendapatan PT Indofood merupakan yang terbesar, yakni sekitar 28%, dengan sebagian besar penjualan berasal dari produk Indomie Goreng. Selain populer di Indonesia, ia juga menembus pasar Asia, Australia, AS, Eropa, hingga Afrika. Dalam merambah pasar internasional, PT Indofood membuka fasilitas produksi mie instan di berbagai negara, seperti di Jeddah, Saudi Arabia, dan Nigeria. Indofood juga memasarkan Indomie dengan menggunakan cara lisensi, seperti kepada Pinehill Arabia Food Limited (Saudi Arabia) dan De United Food Industries Limited (Nigeria), yang keduanya memperoleh hak untuk menggunakan merek Indomie di negaranya masing-masing. Bahkan di Nigeria, yang merupakan pasar mie instan terbesar ke-13 di dunia, Indomie sudah seperti makanan pokok dan dianggap sebagai makanan asli warga setempat.

latest

4. Mustika Ratu

Merintis bisnis dari garasi rumah, DRA. BRA Mooryati Soedibyo, meramu sendiri minuman beras kencurnya. Usaha itu berkembang menjadi perusahaan jamu dan kosmetik  PT Mustika Ratu, Tbk. Produk Mustika Ratu sudah diekspor ke kurang lebih 20 negara, diantaranya Rusia, Belanda, Jepang, Afrika Selatan, Timur Tengah, Malaysia, dan Brunei. Sepanjang tahun 2008, Mustika Ratu membukukan prestasi yang mengagumkan, dimana penjualannya meningkat sebesar 30%, padahal menurut survei Nielsen, industri kosmetik nasional hanya tumbuh 15%. Penjualan ini juga ditunjang oleh ekspor, yang kontribusinya mencapai 30% dari total penjualan.

5. Zahir Accounting

PT Zahir Internasional merupakan pengembang peranti lunak dengan nama Zahir Accounting sejak tahun 1996. Didukung tim terbaik dan inovator cerdas, Zahir berekspansi ke Malaysia untuk memuluskan pemasaran piranti lunak Zahir Small Business Accounting yang dirancang untuk UKM pemula yang memerlukan pembukuan sederhana. Pada tahun yang sama, Zahir mengikuti pameran di CEBIT, pameran IT terbesar di dunia, berlangsung di Hanover, Jerman. Pengusaha Jerman dan Belanda tertarik memasarkan produk tersebut dan memintanya untuk mendapatkan hak pemasaran di wilayah Eropa.

Produk Kedaung Group

6. Kedaung Group

Agus Nursalim melihat potensi Indonesia menjadi produsen glassware atau barang pecah belah kelas dunia, dan lewat Kedaung Group ia membuktikannya. Kedaung menjadi salah satu pabrik pecah belah terbesar di dunia, dengan 150 negara tujuan ekspor. Setengah dari total produksi diekspor ke Negara Asia, Timur Tengah, Afrika dan Australia, dan mempunyai cabang di Amerika Serikat, Kanada, Hongkong, Australia dan sejumlah negara lain.

7. Kopi Kapal Api

Siapa tak kenal kopi Kapal Api? Didirikan pada tahun 1927 dari sebuah usaha keluarga PT Santos Jaya Abadi, brand kopi ini sempat mencatat sejarah sebagai produk Indonesia pertama yang beriklan di telivisi. Nama `Kapal Api’, oleh pendirinya, Go Soe Loet, dipilih karena menjadi simbol kemapanan dan kemewahan di era 1920-an. Kini, PT Santos Jaya Abadi telah memiliki 5 merek kopi di pasaran, serta diversifikasi usaha lewat Kafe Excelso dan Café Grazia. Selain itu, kenikmatan kopi Kapal Api juga dapat dinikmati di Malaysia, Myanmar, dan China.

Eiger

8. Eiger

Brand asal Bandung ini berdiri sejak tahun 1990 dan fokus pada penyediaan perlengkapan berpetualang. Untuk menjangkau pasar global, Eiger tetap memakai merek sendiri supaya tumbuh brand awareness di kalangan konsumen global. Melalui riset pasar tas yang dilakukannya, Eiger memosisikan diri di kelas menengah yang lebih mementingkan kualitas dan harga ketimbang merek sebagai target pasar. Eiger telah merambah Singapura, Malaysia, Brunei dan juga Jerman sebagai pintu masuk menuju pasar Eropa.

9. Edward Forrer

Siapa sangka, Edward Forrer adalah perusahaan alas kaki dan tas asal Indonesia. Edward Forrer adalah merek dagang sekaligus nama pemiliknya. Usai menjalankan strategi pemasaran door to door, Edward membuka toko sendiri di Gang Saad, Bandung. Lambat laun Edward Forrer bisa merambah pasar internasional, yakni Australia dan Malaysia. Dimulai dengan memproduksi sepatu pada tahun 1989 di Bandung, kini Edward Forrer memiliki lebih dari 50 gerai di Indonesia, Australia, Malaysia, dan Hawaii. Edward Forrer memiliki kantor pusat di jalan Veteran No.44 Bandung, Jawa Barat.

10. GT Radial

Ban produksi PT Gajah Tunggal mulai menapak aspal jalan di negara-negara Timur Tengah dan Asia sejak 1983, lewat ban berteknologi bias (cross-ply) untuk kendaraan niaga seperti truk, bus dan mobil angkutan. Baru pada tahun 1992, PT Gajah Tunggal mengekspor ban jenis radial (steel belted) dengan label GT Radial, untuk kendaraan sedan dan truk ringan sampai ke Amerika Serikat. Saat ini GT Radial telah diekspor ke lebih dari 80 negara di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia (kecuali China), Afrika, Australia dan Selandia Baru. Awal keberhasilan tersebut diperoleh berkat rajin mengikuti pameran dagang yang diselenggarakan di mancanegara. Raksasa ban terbesar se-Asia Tenggara ini bahkan sudah menjadi perusahaan internasional. Kunci suksesnya adalah dengan memegang sertifikasi internasional.

11. Bagteria

Bagteria, produk handmade yang diluncurkan awal tahun 2000 ini memiliki garis rancang berciri vintage yang tampil sangat glamour. Brand aksesori asli Indonesia, karya duo anak bangsa, Nancy Go dan Irene Ng, mereka berbagi ide kreatif dan bisnis dalam membesarkan brand mereka. Lantaran ketenarannya, selebriti Paris Hilton dan Emma Thompson serta beberapa selebriti dunia tak segan menentengnya di acara red carpet. Sempat ditawari untuk dibeli dan diganti menjadi label Italia, tetapi rasa nasionalisme mereka lebih tebal daripada pundi-pundi yang ditawarkan, dan mereka pun menolaknya. Kota utama fashion seperti Paris, Milan, London, New York, Australia dan Jepang, merupakan pasar terbesar merek ini. Selain dipasarkan di banyak negara, Bagteria juga sudah membuka butiknya sendiri di Taiwan.

Jco Donut

12. J.Co Donuts & Coffee

Didirikan oleh Johnny Andrean, pengusaha salon dari Indonesia, gerai pertamanya resmi di buka di kawasan Supermal Karawaci, Tangerang. Ternyata konsep bisnis gerai donat modern ini mampu menarik perhatian dan minat masyarakat. Outletnya selalu dipadati pengunjung yang penasaran atau ketagihan mencicipi kelezatan donat kelas premium. Keberhasilan tersebut kemudian diiringi pembukaan gerai-gerai J.Co Donut & Coffee di daerah lainnya. Dalam waktu 1 tahun saja, J.Co Donut & Coffee sudah berhasil membuka 16 gerai dengan jumlah karyawan gerai mencapai 450 orang. Pada tahun 2007, sudah go international dengan beberapa negara seperti Singapura, Australia dan Hongkong. Kesuksesannya menginspirasi munculnya beragam gerai donat modern lainnya.

13. Magno

Niatnya menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Seni dan Rupa ITB, mengantarkan Singgih Susilo Kartono sukses membuat desain radio dari kayu hingga sekarang. Magno adalah radio kayu asli Indonesia yang telah menebar frekuensi sampai Jepang, Amerika Serikat, Finlandia, Inggris dan Prancis. Magno tergolong produk kreatif yang saat ini masih masih diupayakan diproduksi secara masal. Konsep yang disodorkan Magno sangat Unik. Lantaran produk di-finishing dengan minyak kayu, bukan pernis. Harga sebuah radio unik ini berkisar 200-300 dolar AS. Mereka telah membanjiri pasar Amerika, Jepang, Eropa, Hongkong, China dan Australia. Prosentase penjualan produknya 95% untuk pasar dunia, dan sisanya untuk pasar lokal.

14. Sophie Martin

Sophie Martin didirikan oleh pasangan suami-istri berkebangsaan Perancis, Bruno Hasson dan Sophie Martin. Mereka datang ke Indonesia karena Bruno mendapat tugas di sebuah perusahaan Perancis yang ada di Indonesia. Produk pertama mereka adalah tas, dan sekarang sudah merambah ke garment, sepatu, aksesoris dan kosmetik. Semua produk Sophie Martin dijual melalui skema pemasaran Multi Level Marketing dengan katalog baru yang diterbitkan setiap 40 hari. Perusahaan ini memiliki lebih dari 1 juta anggota aktif yang menjual lebih dari 50.000 produk sehari. Setelah mendirikan kerajaan bisnis di pasar dalam negeri, perusahaan ini pun melebarkan sayapnya ke luar negeri, seperti Filipina, Vietnam, dan Maroko.

15. Olympic Furniture

Au Bintoro mendirikan perusahaan ini pada tahun 1982, dan baru mendapatkan label untuk usaha miliknya pada tahun 1984, terinspirasi dari olimpiade olah raga di Rusia, hingga lahirlah Olympic Furniture. Ia yakin nama ini akan merajai pasar furniture di tanah air, dan hal tersebut terbukti, saat ini Olmypic Furniture telah menjadi salah satu produsen furniture terbesar di Indonesia. Tidak hanya terkenal di negeri sendiri, tetapi termyata Olympic yang juga memproduksi merek-merek Albatros, Procella, Olympia dan Audio Pro, telah diimpor hingga ke 100 negara. Ciri khas furnitur Olyimpic adalah konsepnya yang knock down (bongkar pasang), berdesain sederhana dan harga yang bersaing.

16. Radix Guitar

Ide awalnya sederhana, tidak ada gitar profesional buatan Indonesia yang layak pakai dalam show internasional. Itu yang terus bergema di kepala Toien Bernadhie, sampai akhirnya mendirikan Radix Guitar. Berbekal bahan baku yang sebagian besar lokal, Toien mengurusi pemasaran dan distribusi sendiri ke negara-negara seperti Swedia Denmark, Inggris, Yunani, Swis, Kanada, Australia, Singapura dan Malaysia. Toien punya trik tersendiri dalam memasarkan produknya mancanegara. Ia membuat produk yang desainnya disesuaikan dengan konten dan budaya pembeli internasional. Misalnya, dicantumkan slogan “Carefully handcrafted individually selected and personally inspected”. Unik bukan?

Maxim, salah satu produk andalan Maspion

Maxim, salah satu produk andalan Maspion

17. MASPION

Kata MASPION adalah singkatan dari Mengajak Anda Selalu Percaya Industri Olahan Nasional, tak heran jika salah satu perusahaan elektronik terbesar ini memiliki tagline “Cintailah produk-produk Indonesia!”. Maspion berdiri tahun 1962 di Surabaya berawal dari industri lampu teplok rumahan sederhana warisan sang ayah, pelan-pelan Alim Markus mulai mengembangkan produksinya, dari yang awalnya cuma lampu teplok, merambah produksi alat-alat elektronik rumah tangga hingga pipa PVC. Maspion pun telah memasok produknya hingga Amerika, Jepang, Taiwan, dan beberapa negara berkembang di dunia.

18. Cerutu Taru Martani

PD Taru Martani, sebuah perusahaan dagang milik pemerintah daerah yang hingga kini masih memproduksi cerutu baik untuk dalam dan luar negeri. Berdiri tahun 198 oleh salah seorang penduduk berkewarganegaraan Belanda, pabrik ini konsisten menciptakan formulasi campuran tembakau cerutu bercita rasa tinggi. Sekitar 90 persen produknya diekspor. Setidaknya 14 jenis cerutu produksi Taru Martani menjadi komoditi ekspor yang cukup menjanjikan. Pasarnya merambah Belanda, Belgia, Jerman, Cekoslovakia, Amerika, Asia, Eropa, serta ASEAN.

19. The Executive

Didirikan oleh Johanes Farial dengan nama PT. Delami Garment Industries pada tahun 1979 dan produk pertamanya adalah men’s trousers dengan label Wood & John Far. The executive lahir justru pada tahun 1984 dengan label Executive 99 dan masih memproduksi men’s trousers. Tahun 1987 Johanes mulai mengincar pasar mancanegara seperti, Amerika, Eropa, dan Jepang. Brand lokal lainnya yang diproduksi oleh pabrik ini adalah Jockey, Et Cetera, Wrangler, Colorbox, Choya, Tira Jeans, Lee, dan Billabong.

20. Terry Palmer

Di bawah naungan PT Indah Jaya Textile Industri, awalnya brand ini hanya hanya fokus pada pasar lokal dengan handuk sebagai produk andalannya yang diproduksi tahun 1962. Perlahan tapi pasti merek ini menginternasional pada tahun 1988, dengan pasar Eropa. Ternyata produk ini banyak peminat karena tekstur handuknya sangat lembut dengan daya serap maksimal. Berdirilah pabrik moderennya pada tahun 1992 di Tangerang. Sampai sekarang pangsa pasarnya telah sampai ke Jepang, Amerika, Australia dan beberapa negara lain di Eropa.

Jika brand-brand tersebut mampu mendunia, mengapa brand Stars people tidak? Saatnya go international! (CEO Stars-AP)