Apa Yang Bisa Diwariskan Untuk Masa Depan?

05:17 on November 10, 2015 by Editor in CEO on frame

“Ibu mana yang tidak bahagia mendapati anaknya yang bangga terhadap ibu kandungnya sendiri?” Kalimat ini membuat kami sunyi beberapa saat. Sore itu CEO Stars sedang mewawancara Jentina Pakpahan, Direktur Operasional Youth Shine Academy (YSA), sebuah sekolah inklusi di Denpasar, Bali. Shine sendiri kependekan dari saintly, humility, integrity, nationality dan enthusiasm, nilai-nilai yang diyakini sekolah tersebut.

Ibu satu anak ini melanjutkan, “Letih yang kami rasakan selama ini hilang seketika setelah membaca surat dari anak saya, Aurel. Di situ ia menulis : Mami.. you are my hero…” Kenangnya pada satu malam saat perjalanan menuju sebuah daerah di Bali, saat membaca surat dari putri semata wayangnya.

Memulai Kantor Dari Kamar Kos

Tidak menyangka sekolahnya bisa berkembang pesat seperti sekarang. Padahal tadinya hanya ingin membantu karena ia melihat banyak anak berkebutuhan khusus yang tidak mendapat perlakuan baik. Ia memulai bisnisnya dari kamar kos. Sedikit demi sedikit siswanya terus bertambah. Sari yang awalnya hanya 4 orang, sekarang total siswa sekitar 250-an siswa, dari TK-SMA. “Banyak sekolah menolak mereka. Alasan kami tetap meneruskan ini adalah yaa.. karena siapa lagi yang akan peduli? Nggak kepikir tadinya mau bikin sekolah.” Jelasnya. Bermula dari melihat keponakan yang mengalami autisme, Jentina mencoba mencari informasi kesana kemari tentang apa itu autisme. Ia miris melihat belum adanya lembaga yang mampu mengakomodir anak berkebutuhan khusus. Bahkan hal paling sepele seperti informasi yang bisa diakses oleh orang tua akan hal ini, juga masih minim.

Warisan Terbaik Masa Depan

Sama halnya dengan entrepreneur lain, apa yang dialami Jentina dan Teguh Jaya Putra, suaminya, di awal-awal merintis usaha juga sempat membuatnya down. Jatuh bangun dalam mengembangkan bisnis juga mereka rasakan. “Saya ingin mewariskan legacy kepada generasi mendatang.” Menurutnya hal paling berharga yang bisa diwariskan pada generasi berikutnya dari bangsa ini adalah menanamkan nilai-nilai moral, mental positif dan sistem yang baik. Itulah yang menjadi alasan ia dan suami terus memperbaiki SDM di sekolahnya. Selama mengembangkan pusat pendidikan anak berkebutuhan khusus ia menemukan banyak kendala. Selain minimnya lembaga yang concern di bidang ini, di Indonesia sendiri belum ada fakultas khusus yang mempelajari tentang autisme. Untuk itulah, Jentina terpaksa melakukan benchmarking ke komunitas-komunitas peduli autisme di dalam maupun luar negeri, membaca banyak literasi dan tentunya sharing dengan orang tua yang anaknya berkebutuhan khusus. Harapannya agar yang ia kerjakan ini mampu menjadi referensi bagi generasi berikutnya.

Jentina Pakpahan di tengah-tengah muridnya saat acara kelulusan

Jentina Pakpahan diapit muridnya saat acara kelulusan

100 Kota Indonesia

Memulai operasi di bulan November 2002, YSA bisa terbilang sukses. Bukan hanya sederet prestasi seperti berhasil mengantarkan anak didiknya lolos masuk Universitas Ciputra lewat jalur prestasi, namun juga menjadi sekolah percontohan bagi sekolah inklusi lain, serta acuan banyak orang tua. Ada mimpi lain dari YSA untuk mewariskan ‘sesuatu’ bagi generasi mendatang, yakni membuka koneksi dengan 100 kota di Indonesia. “Harapan kami sederhana. Jika di satu kota terdapat pusat informasi tentang autisme yang bisa diakses masyarakat, maka kota-kota sekitarnya pasti juga bisa mengakses.” Terang Jentina. Untuk itu pihaknya membuka lebar-lebar bagi siapapun yang ingin bekerjasama, bergandengan tangan, menjadi sahabat anak penyandang autisme di banyak kota di seluruh Indonesia. Stars people bisa menghubungi mereka lewat facebook fanpage Youth Shine Academy.

Saatnya Indonesia Mencetak Tokoh Dunia

Autisme bukan penyakit menular sehingga tidak perlu dijauhi. Jentina menegaskan bahwa masyarakat luas, dan terlebih lagi orang tua, tidak perlu risau jika berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa anaknya menyandang autis. Kita hanya cukup menerima akan kondisi ini dan memaksimalkan potensi mereka. Seperti halnya Stephen Wiltshire, seniman yang fenomenal lewat karyanya berupa lukisan London Skyline (foto di tulisan ini), Albert Einstein, Mozart, Charles Darwin, Sir Isaac Newton, Nikolas Tesla dan Michaelangelo adalah sederet nama tokoh besar dunia yang juga mampu menghasilkan karya masterpiece meski menyandang autis. Jika mereka bisa, kenapa anak-anak Indonesia tidak? (CEO Stars-FH)