4 Kunci Sukses Melanjutkan Tongkat Estafet Bisnis Keluarga

02:48 on April 30, 2016 by Editor in Capture

Mempertahankan kejayaan bisnis keluarga bukanlah perkara mudah, selain rawan konflik, tak jarang bisnis keluarga juga menjadi pemicu pertengkaran antara anggota keluarga. Tetapi tak sedikit juga bisnis keluarga sukses berjaya dari generasi ke generasi. Simak kunci sukses melanjutkan estafet bisnis keluarga berikut ini :

1. Memahami ‘family business’

Bisnis milik pribadi atau perseorangan sangat berbeda dengan bisnis keluarga. Ketika menjalankan bisnis pribadi, kita bebas memegang kendali dan mengarahkan sesuai keinginan. Tetapi dalam bisnis keluarga, kendali bisnis ada di tangan beberapa orang dalam keluarga, sehingga dibutuhkan kerjasama, komunikasi yang baik, dan kemampuan untuk mengendalikan konflik yang mungkin muncul.

Menurut Caroline Seow, Executive Director dari FBN Asia Pacific, sebuah organisasi non-profit perwakilan yang menaungi bisnis keluarga di 45 negara di 5 benua menjabarkan ‘family business’ sebagai bisnis yang dimiliki dan dipengaruhi oleh keluarga, baik kebijakan, pengambilan keputusan, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan bisnis tersebut. Menurutnya, bisnis keluarga memainkan peran penting dalam perekonomian. Sebuah bisnis keluarga yang sukses dan mampu bertahan dalam beberapa generasi, dan bisa membantu meningkatkan perekonomian masyarakat. Ada sekitar 80% bisnis keluarga di Asia yang sudah mencapai tahap ini di beberapa negara Asia termasuk India, Singapura, Indonesia, dan Hongkong.

2. Belajar pada sang ahli

Meneruskan tongkat estafet bisnis keluarga membutuhkan bekal pengetahuan cukup Profesor Randel Carlock dari INSEAD menyebutkan bahwa ada sejumlah tantangan dalam pengelolaan transisi dari pemilik bisnis kepada manajer, ketika bisnis keluarga benar-benar akan dijalankan secara profesional. Tantangan tersebut di antaranya adalah bagaimana mewujudkan pertumbuhan, perencanaan yang matang, kepemilikan, dan kepemimpinan yang profesional dalam bisnis. Tidak banyak bangku pendidikan formal yang mengajarkan hal tersebut. Mau tak mau kita harus belajar pada sang ahli, yaitu pemilik perusahaan itu sendiri. Bagaimana sepak terjangnya menghadapi konflik dan mengemudikan bisnis hingga menyelaraskannya dengan keluarga.

Kita juga bisa belajar dari gaya manajemen bisnis keluarga lain yang telah berhasil mempertahankan kejayaannya dari generasi ke generasi, tentunya dengan menyesuaikan kebutuhan dan gaya kepemimpinan bisnis keluarga yang dikelola.Sebagai generasi kedua yang meneruskan tongkat estafet Panasonic Group, Rachmat Gobel sangat beruntung pernah belajar langsung dari founder perusahaan besar tersebut yakni ayahnya sendiri Thayeb Mohammad Gobel. Filosofi, nilai-nilai dan gaya manajemen yang pernah dilihat, dirasakan dan dipelajarinya dari sang ayah inilah yang menjadi bekalnya terus membangun, melebarkan sayap serta menyiapkan regenerasi perusahaan.

3. Menumbuhkan loyalitas pekerja

Sepertiga atau lebih profit perusahaan dihasilkan oleh para pekerja yang loyal, tetapi faktanya hanya 60% pekerja termasuk dalam kategori loyal, selebihnya, mereka masih aktif mencari pekerjaan di perusahaan lain. Menciptakan suasana kerja yang kondusif, memberikan peluang untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial dengan melibatkan keluarga mereka, dan memberikan apresiasi atas prestasi kerja adalah beberapa hal yang bisa Stars people lakukan untuk membangun loyalitas pekerja. Hasil studi yang dilakukan Benjamin Schneider, profesor emeritus dari Universitas Maryland menunjukkan bahwa sikap terkait loyalitas karyawan mampu mendahului hasil kinerja keuangan dan aktivitas penjualan dalam perusahaan, dan mampu memberikan manfaat lebih besar dalam menunjang bisnis.

Loyalitas karyawan tidak hanya mampu menjaga performa dan kinerja perusahaan, tetapi juga mampu menciptakan hal positif lain seperti pola pikir maju, integritas dan disiplin dalam bekerja.  Hal-hal tersebut adalah aset mahal dan sangat berharga dalam bisnis.

4. Inovatif

Inovasi mampu menciptakan proses kerja yang lebih efisien, produktivitas, dan kinerja yang lebih baik. Dalam bisnis, inovatif bisa berarti menerapkan ide-ide baru, menciptakan produk dinamis atau meningkatkan layanan yang ada. Hal tersebut dapat menjadi pemicu bagi pertumbuhan dan keberhasilan bisnis. Menjadi inovatif tidak berarti menciptakan sesuatu yang baru, namun cukup mengubah model bisnis dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan untuk memberikan produk atau layanan yang lebih baik. Ingat bagaimana Steve Jobs berinovasi memberikan sentuhan artististik pada produknya, dan Apple mampu tampil lebih elegan merajai dunia bisnis komunikasi.

Terlepas dari hal tersebut diatas, nilai-nilai positif dan jiwa sosial sangat penting untuk diterapkan dan dipegang teguh oleh setiap generasi penerus dalam bisnis keluarga. Mengutip pepatah berharga dari Confucius : “If your plan is for one year plant rice, if your plan is for ten years plant trees, if your plan is for one hundred years educate children.” (CEO Stars-AP)