3 Alasan Besar Perusahaan Butuh Pelatihan Berkala

01:15 on July 15, 2015 by Editor in Competitive

Ilustrasi

Ilustrasi

Pentingnya sebuah perubahan hingga ia menjadi bahasan di banyak buku, mulai lokal hingga terbitan luar negeri. Untuk lokal kita cukup tidak asing dengan buku-buku karya Prof. Rhenald Kasali seperti “Cracking Zone“, “Myelin” hingga “Change” yang rata-rata mengangkat isu perubahan di beberapa pesan tulisannya. Sementara buku terbitan luar, “Who Moved My Cheese” karangan Spencer Johnson, M.D menjadi begitu populer di kalangan profesional. Untuk perubahan di perusahaan mau tidak mau pelatihan mutlak dilakukan. Itupun akan menghasilkan dampak signifikan bila dilakukan secara berkala. CEO Tranceformasi Indonesia, Bobby Meidrie membenarkan pentingnya hal ini. Berikut tiga alasan besar mengapa perusahaan harus melakukan pelatihan berkala :

1. Pentingnya Kekompakan Tim

Perbedaan strata kemampuan setiap individu di perusahaan menciptakan dinamika tersendiri. Perbedaan latar belakang menjadikan irama kerja tidak seiring sejalan. Bicara keahlian apalagi, setiap karyawan tentu punya kapasitas berbeda. Menarik apa yang disampaikan Bobby, bahwa mengandalkan sekolah saja tidak cukup. Pendidikan formal basanya hanya fokus pada kompetensi teknis. Namun managerial skill tidak diajarkan. Terlebih untuk urusan problem solving, di bangku kuliah tidak banyak menyentuh titik vital keahlian yang satu ini. Pemberian training menularkan best practise. Pelatihan menjadi jembatan komunikasi antar semua pihak dalam satu perusahaan untuk kembali pada jalur yang sama, tujuan bersama dari perusahaan.

2. Biaya Turn-Over Karyawan Jauh Lebih Mahal

Fenomena perusahaan yang masih terlalu banyak perhitungan dalam menganggarkan dana untuk pelatihan merupakan pekerjaan rumah terbesar bagi praktisi pengembangan sumber daya manusia (SDM). Karena perusahaan penganut filosofi kuno kebanyakan berpikir bahwa perusahaan tidak butuh training & development untuk memajukan usahanya. Inilah biang penyebab munculnya status quo. Banyak yang kemudian terjebak dalam comfort zone. Selain itu pemberian pelatihan dinilai sebagai upaya penghamburan uang perusahaan. Padahal, cost yang harus dibayar perusahaan dalam merekrut dan menyiapkan karyawan baru jauh lebih besar dibanding memberi training karyawan lama.

3. Perusahaan Modern Melakukannya

Seorang CEO harus memiliki tingkat kepekaan yang tinggi. Itulah mengapa inisiatif pemberian training seharusnya muncul darinya. Sudah tidak jaman perusahaan yang menganggap pelatihan hanya dibutuhkan pada saat genting saja. Menurut Bobby, ibarat kapal yang akan tenggelam, kebocoran seharusnya sudah dapat terdeteksi pada saat 20%. Karena bila perusahaan memberi training dalam kondisi kapal mengalami kebocoran hingga 80%, itu sudah terlambat.

Who Moved My Cheese :  Bobby Meidrie saat memberi pelatihan karyawan

Who Moved My Cheese : Bobby Meidrie saat memberi pelatihan karyawan.

Miliki Kurikulum Pelatihan Tahunan

Mengantisipasi terjadinya kondisi buruk yang tidak diinginkan, seorang CEO dapat menunjuk tim ahli atau pihak external untuk mengindentifikasi kebutuhan pelatihan pengembangan diri karyawan. Idealnya, dalam setahun perusahaan memiliki kurikulum training & development bagi seluruh karyawan. Frekuensi pelatihan dalam setahun bisa tiga hingga lima kali menyesuaikan kebutuhan atau dapat pula memakai asumsi budget senilai tertentu. Menurut trainer SDM yang sekaligus dosen pasca sarjana Universitas Surabaya ini, Rp. 5 juta per karyawan adalah angka yang wajar untuk anggaran peningkatan kualitas SDM. (CEO Stars-FH)