10 Pelajaran Leadership Dari Valentino Rossi

04:47 on November 9, 2015 by Editor in Capture, CEO insight, Competitive

MotoGP Valencia 2015 semalam bukan hanya menyisakan banyak cerita, namun juga pelajaran berharga. Seperti komentar banyak pihak, perhelatan balap motor paling bergengsi sejagad raya tersebut tahun ini akhirnya ditutup dengan cerita kemenangan penuh drama. Jorge Lorenzo menutup balapan musim 2015 dengan menaiki podium juara dengan total poin 330, diikuti rival sekaligus rekan setimnya di Yamaha, Valentino Rossi, yang terpaut 5 poin di bawahnya. Meski gagal merebut mahkota juara, dunia menyebut pebalap Italia ini sejatinya pemenang.

The Doctor, sebutan Valentino Rossi, mengajari dunia banyak hal termasuk pelajaran berharga tentang leadership.

1. Bagaimana menjadi pemenang sebenarnya

Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi juara tanpa perlu memasuki arena pertandingan? Mungkin saja, dan itulah yang terjadi di sirkuit Valencia, kemarin (8/11). Valentino Rossi telah ‘memenangi’ hati penonton. The Guardian bahkan di awal tulisannya menyebut “The Italian great Valentino Rossi”. Jauh hari sebelum balapan seri terakhir musim ini digelar sampai hari ini pun, hujan dukungan terhadap Vale terus deras mengalir. Di twitter ramai kicauan mendukung Vale. “i’m just realize that they need 3 spanish rider to fight with one @ValeYellow46 L.O.L ashamed @lorenzo99 @marcmarquez93.” Twit dari @Fretty_sstyles. Ada pula kicauan @aldofajar berbunyi : “Jorge who? I only saw a legend started from 22nd position, took over 18 positions without anyone’s help.”

Vale memang memenangkan hati jutaan penonton. Bisa jadi twit @chithrapriya1 mewakili banyak penggemarnya di seluruh dunia : “Heart says @ValeYellow46! Mind says @lorenzo99!” Bukankah seorang leader harus bisa merebut hati pengikutnya untuk bisa memenangi persaingan?

2. Memiliki mental baja

Tidak mudah mengatasi situasi yang membuat seseorang tertekan. Seri terakhir MotoGP menempatkan Vale pada posisi tidak diuntungkan. Menyenggol Marc Marquez di sirkuit Sepang, membuatnya makin tertekan karena akhirnya harus start di posisi paling buncit pada seri Valencia, sebagai bentuk sanksi meski ia memberi penjelasan bahwa tindakannya itu bukan bentuk kesengajaan. Kamera CCTV yang menguatkan pernyataannya juga tak mampu membatalkan sanksinya. Demi alasan sportivitas, ia rela start di urutan ke-22 dan membuatnya sulit bisa memenangi balapan Valencia. Mustahil seseorang bisa menyodok ke urutan keempat dengan 7 pebalap berpengalaman dan berkualitas dunia berada di depannya. Namun Vale membuktikannya. Pesan moralnya adalah seorang leader harus memiliki mental baja untuk bisa bertahan dalam situasi sulit apapun.

3. Kontrol emosi yang stabil

Lawan pada sebuah kompetisi bukan hanya orang lain, tapi juga diri sendiri. Bukankah melawan diri sendiri jauh lebih sulit? Mengatasi ego, mengelola kemarahan, tetap menempatkan orang lain dan institusi di atas kepentingan diri sendiri adalah beberapa hal yang tidak mudah dilakukan. Tetapi seorang pemimpin sejati pasti mau melakukannya. Valentino Rossi mengajarkan 3 hal tersebut.

4. Menjunjung tinggi sportivitas

Tidak mudah bersikap profesional. Salah satunya adalah menjunjung tinggi aturan yang berlaku dan menaruh respect pada institusi yang menaungi pribadi-pribadi di dalamnya. Meski Vale mengklaim dirinya tidak dengan sengaja menendang Marquez di Sepang yang menjadikan pebalap asal Spanyol tersebut terjatuh, namun ia tetap berlegawa menerima sanksi dari induk organisasi MotoGP dengan sanksi start di urutan terakhir pada balapan berikutnya, yakni di Valencia kemarin. Pemimpin harus bisa bersikap sportif.

5. Berjalan dengan kepala tegak

Tak selamanya keadaan mendukung. Tak seterusnya kesempatan berpihak. Namun jika kita melangkah penuh keyakinan, adakah sesuatunya mustahil? Siapapun bisa memetik pelajaran dari sirkuit Valencia, dimana The Doctor mampu berjalan dengan kepala tegak untuk berlomba dengan segala kemampuan yang ada meski harus start di urutan paling belakang dengan beban moral yang tentu saja tidak ringan. Antara menahan kemarahannya dan mengontrol kekecewaannya, Valentino Rossi harus bisa menghadapi perang batin dalam dirinya. Ia berhasil atas itu dengan menempatkan dirinya di posisi keempat, sesuai janjinya. “Sejujurnya, sangat mustahil merebut posisi teratas saat harus start di belakang grid. Saya akan lakukan yang terbaik, dan finish di urutan keempat.” ujarnya kepada Marca, salah satu media berpengaruh di Spanyol, usai latihan terakhir Sabtu (7/11).

6. Selalu percaya pada kemampuan diri

Menjadi percaya diri mutlak diperlukan untuk bisa sukses. Tanpa percaya diri cukup, sebagus apapun potensi seseorang tetap tidak akan keluar. Seperti sebuah kartu pass, percaya diri dibutuhkan untuk bisa melalui pintu gerbang menuju kesuksesan. Meski dijegal dengan berbagai macam cara oleh lawan-lawannya, bahkan juga disinyalir oleh ‘sistem’, serta usia yang sudah tidak muda lagi, Valentino Rossi tetap percaya diri menghadapi perlombaan demi perlombaan musim 2015.

7. Menjalani profesi dengan passion

Apa yang membuat Valentino Rossi bisa menjadi seperti sekarang? Pertanyaan ini harusnya menjadi renungan banyak leader jika ingin memetik keberhasilan luar biasa dalam hidupnya. Passionlah yang membawanya menjadi ‘legenda’ MotoGP. Valentino kecil sudah terbiasa balapan. Oleh ayahandanya yang juga pebalap, Graziano, ia dihadiahi go-kart pada usia 5 tahun. Sejak itu ia menyukai segala hal berbau-bau roda. Ia mengendarai motor balapnya karena memang itu dunianya. Di sebuah kesempatan ia jelas-jelas menegaskan bahwa dirinya tidak mau memilih berprestasi di jalur akademik, tapi di motor sport. Prestasinya mengantarkannya meraih gelar doktor honoris causa di bidang Komunikasi dan Publikasi dari Universitas Urbino.

8. Menjadi pemenang itu butuh persiapan

Bukan hal yang mengagetkan jika ia disebut-sebut sebagai legenda MotoGP. Bahkan keberadaan Vale dinilai telah menjadikan MotoGP naik pamor setingkat formula 1. Apa yang ia kerjakan bukan semata-mata senang. Namun penuh perjuangan dan persiapan matang. Ia bukan hanya menebar sensasi hingga dipuji, sama sekali tidak. Melainkan berprestasi sesuai harapan banyak penggemarnya.

9. Push to the limit

Satu lagi pelajaran berharga dari pria bertubuh kecil ini. Ia selalu berjuang keras agar impiannya terwujud. Meski sudah berusia 36 tahun, namun tetap bersikeras meraih kemenangan kesepuluhnya sebagai juara dunia MotoGP. ‘Drama’ balapan tahun ini yang membuatnya di posisi tidak diuntungkan, tidak membuatnya menyerah begitu saja, walaupun pada akhirnya 3 pebalap Spanyol berusaha keras menjegalnya. Begitu kata kicauan di twitter setelah balapan Valencia berakhir.

10. Tetap rendah hati

“Ada dua hal yang membedakan Valentino Rossi dengan pebalap lainnya.” Tulis MotoLine Magazine dalam artikelnya. Pertama, ia selalu nampak gembira. Dirinya tak pernah menganggap segala sesuatu terlalu serius sehingga hal tersebut mengurangi keriangannya. Yang kedua, dia selalu memperlakukan penggemarnya dengan baik. Vale selalu punya waktu untuk orang-orang yang mengaguminya itu, baik di dalam maupun luar negeri. Sikap rendah hati ini, disebut oleh majalah tersebut, harusnya ditiru oleh seorang rockstar lain. Itulah yang membedakan Valentino Rossi dengan lainnya.

Penting untuk kita jawab dalam hati, lalu merenungkannya : “Sebagai leader, apa yang telah kita berikan kepada orang lain? Dan apa yang membedakan kita dengan pemimpin pada umumnya?” (CEO Stars-RD)